NAGEKEO.News—
Aksi kemanusiaan dan ikatan persaudaraan sesama pendidik kembali dibuktikan nyata. Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Mauponggo menyalurkan bantuan solidaritas bagi para guru yang menjadi korban terdampak gempa bumi.
Sebelumnya, bantuan kemanusiaan ini secara resmi diserahterimakan oleh pengurus PGRI Kabupaten Flores Timur (Flotim) di Boawae pada Minggu, 04 Oktober 2026. Karena keterbatasan waktu, rangkaian penyaluran tersebut kemudian dilanjutkan langsung oleh pengurus PGRI Cabang Mauponggo kepada rekan-rekan guru penerima manfaat pada keesokan harinya, Senin, 05 Oktober 2026. Penyerahan dipusatkan di Kampung Guyuwolo, tepatnya di kediaman Bapak Yunius Meko Sugi, salah satu guru yang rumahnya mengalami kerusakan total akibat guncangan gempa.

Bantuan yang disalurkan merupakan amanah dari PGRI Flotim, yang dihimpun dari hasil uluran tangan dan kepedulian lintas daerah dari PGRI Kota Tangerang, PGRI Kabupaten Kendal, PGRI Kabupaten Karanganyar, dan PGRI Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Dalam penyaluran tahap ini, tercatat sebanyak 20 paket sembako, 23 sak semen, dan 26 lembar seng diberikan kepada para guru yang rumahnya dikategorikan mengalami kerusakan berat.
Ketua PGRI Cabang Mauponggo, Ferdinandus Laki Nuwa, menjelaskan bahwa bantuan material bangunan sengaja diprioritaskan untuk membantu para korban membangun hunian sementara (huntara). “Sebagai sesama rekan guru, kami merasa terketuk rasa solidaritasnya setelah melihat langsung kondisi rumah teman-teman yang rata dengan tanah. Kesepakatan bersama diambil agar bantuan material seperti semen dan seng difokuskan penuh bagi mereka yang sedang berjuang mendirikan hunian darurat,” ujar Ferdinandus saat menyerahkan donasi.
Di balik proses pendataan, tersimpan cerita pilu yang mendalam. PGRI Mauponggo mengungkapkan bahwa banyak guru korban gempa yang sempat enggan mendaftarkan diri sebagai korban, karena masih diliputi trauma psikologis mendalam akibat bencana tersebut. Perasaan hancur dan kehilangan yang luar biasa diungkapkan oleh salah satu guru terdampak berat dengan suara terbata-bata: “Siapa yang mau, rumah yang sudah dibangun dengan susah payah, menghabiskan uang ratusan juta, dalam sekejap mata hilang begitu saja. Rumah yang dulunya tempat pulang ternyaman, kini sempat menjadi tempat paling menakutkan. Sungguh, psikis kami sangat terganggu.”

Aksi solidaritas ini mendapat sambutan hangat penuh haru dari para penerima manfaat. Mewakili rekan-rekan seprofesi, para guru terdampak menyampaikan rasa terima kasih yang tak terkira kepada PGRI Flotim serta seluruh jajaran PGRI dari berbagai kabupaten di Nusantara yang telah menjembatani dan mengirimkan kepedulian ke Mauponggo.
Ferdinandus Laki Nuwa menegaskan bahwa pengurus cabang tidak akan berhenti sampai di sini. Sambil terus memperjuangkan uluran tangan lanjutan bagi beberapa guru lainnya yang belum tersentuh bantuan, ternyata rumah mereka juga mengalami rusak berat, PGRI berkomitmen untuk terus mendampingi para anggotanya.
“Kegiatan sosial ini sangat positif. Di saat duka, kita sesama guru saling mengupayakan. Duka guru adalah duka kita semua. Kami juga akan terus berupaya dan berjuang lagi bagi beberapa guru lain yang belum tersentuh bantuan, meski rumah mereka tercatat mengalami rusak berat,” tegas Ferdinandus.
Sebelumnya, pada bulan lalu, PGRI Cabang Mauponggo juga aktif memfasilitasi para donatur untuk membantu pemenuhan kebutuhan darurat seperti terpal bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan. Kini, gerak cepat berlanjut dengan menyasar langsung keselamatan dan tempat tinggal para guru.
Melalui aksi ini, solidaritas antarguru dari berbagai penjuru tanah air membuktikan bahwa jarak bukanlah halangan untuk merajut kepedulian, menguatkan langkah para pendidik di Mauponggo untuk bangkit kembali.